Salam Happy Food Explorer!

Pernahkah kalian mengonsumsi makanan lalu memeriksa kadar protein di labelnya?
Capture

Yaps, kali ini saya akan menjelaskan sedikit tentang salah satu cara penentuan kadar protein, yaitu Metode Kjeldahl.

Prinsip dari Metode Kjeldahl adalah:

Capture

  1. Destruksi: Pada tahap ini, sampel didestruksi untuk membebaskan kadar Nitrogennya yang nantinya akan dikonversi menjadi kadar protein. Caranya adalah dengan menambahkan H2SO4 yang merupakan asam kuat, Kalium sulfat untuk meningkatkan titik didih, HgO sebagai katalis, dan kemudian dipanaskan sampai suhu kurang lebih 370 derajat Celcius. Reaksi yang terjadi menghasilkan amonium sulfat.
  2. Netralisasi dan Distilasi: Netralisasi dilakukan dengan penambahan NaOH pekat untuk menetralkan asam sulfat. Amonium sulfat akan dipecah menjadi gas amoniak. Dan saat proses distilasi, gas amoniak akan ditangkap oleh asam borat dan membentuk amonium borat.
  3. Titrasi: titrasi dilakukan dengan HCl encer 0,02 N. Dengan demikian, asam borat akan terlepas kembali dan terbentuk amonium klorida. Jumlah asam klorida yang digunakan untuk titrasi setara dengan jumlah NH3 (amoniak) yang dibebaskan dari proses distilasi.1 mol  HCl = 1 mol N = 14 gram Nitrogen.Penentuan kadar Nitrogen dapat dilakukan dengan rumus:

    %N = (mL HCl sampel – blangko) x Normalitas x 14 x 100
                                                          mg contoh

    Kadar Protein dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

    % Protein = %N x F

    *F adalah faktor konversi. Secara umum, F yang digunakan adalah 6,25.

Metode Kjeldahl memiliki keunggulan yaitu murah, cukup akurat, dan bisa digunakan untuk berbagai jenis sampel, khususnya sampel makanan. Akan tetapi, kelemahannya yaitu Nitrogen yang terhitung tidak hanya dari protein, melainkan bisa dari beberapa pengotor atau non protein.

 

 

Advertisements