Salam food explorer!

Sudah baca bagaimana saya dan tim melakukan wawancara dan kunjungan ke dinas kesehatan untuk mendapatkan informasi tentang SP-PIRT di part 1?

Kali ini saya akan memulainya dengan mengurus Surat Usaha, yaitu berupa Surat Keterangan Usaha (SKU). Untuk mengurus SKU ini harus dimulai dari RT, dilanjutkan ke RW, dan akhirnya ke Kelurahan Pakualam yang merupakan kelurahan lokasi produksi Onagi. Di bagian RT, saya sudah janjian dengan ketua RT (Pak Sugeng), namun tiba-tiba beliau harus ke Serang untuk urusan pekerjaan. Alhasil surat pengantar diurus oleh Ibu RT dimana surat pengantar itu sudah di tanda tangan terlebih dahulu oleh Pak Sugeng, jadi Ibu RT hanya mengisi Nama, dll nya saja. Saat itu tanggal 12 Juni 2016, hari Minggu, jadi saya langsung ke rumah Pak Sugeng dengan membawa fotokopi KTP sebagai syarat untuk membuat surat pengantar ke RW dan Kelurahan Pakualam.

Yes! Surat pengantar dari RT sudah didapat dengan cukup mudah. Setelah ini harus ke rumah ketua RW (Pak Mul). Puji Tuhan, rumahnya hanya berbeda satu gang dengan ketua RT, saya pun langsung bergegas ke sana. Dan syukurnya lagi, Pak Mul sedang ada di rumah. Saya pun langsung meminta tanda tangan surat pengantar dari beliau, dan diberikan arahan untuk ke kelurahan Pakualam yang tidak jauh dari situ. Namun saat itu hari Minggu, sehingga saya diminta untuk persiapkan waktu di hari Senin sampai Jumat. By the way, inilah hasil surat pengantar dari RT-RW ke Kelurahan untuk mendapatkan SKU:

Surat RT-RW

Secara keseluruhan, untuk membuat surat pengantar ini tidak begitu sulit, hanya perlu fotokopi KTP dan janjian dengan ketua RT dan RW nya.

Karena Senin, 13 Juni 2016 saya ada kuliah full dari pagi hingga sore, maka saya rencanakan hari Selasa, 14 Juni 2016 untuk pergi ke kelurahan Pakualam yang tidak jauh dari rumah saya dan meminta SKU dengan menunjukkan surat pengantar ini.

=================================================================

Hari Selasa, 14 Juni 2016 pun tiba. Saya segera pergi ke Kantor Kelurahan Pakualam pukul 08.00 WIB dengan membawa surat pengantar dan fotokopi KTP yang diperlukan untuk membuat SKU. Saat itu surat pengantar dan KTP langsung diterima oleh pihak kelurahan, namun belum bisa ditandatangan karena sekretaris atau ketua lurahnya belum hadir. Saya pun harus menunggu hingga pukul 09.00 WIB.

Sambil menunggu, saya pun menelepon dinas kesehatan Tangsel (Pak Hendra) untuk menanyakan masalah lampiran Surat Usaha yang dimaksud. Ternyata kata beliau, yang dimaksud Surat Usaha di formulir SP-PIRT adalah Surat Keterangan Domisili Usaha (SKDU). Saat itu saya langsung masuk ke kelurahan dan bertanya tentang SKDU. Biayanya cukup mahal, Rp 500.000,- dan perlu akta notaris.

Ketika sudah pukul 09.00 WIB, saya segera masuk ke kantor kelurahan. Ternyata, SKU yang sudah ditandatangani oleh sekretaris kelurahan lah yang dikeluarkan, bukan SKDU (karena SKDU perlu bayar Rp 500.000,- dan perlu akta notaris). Biaya yang dikeluarkan untuk SKU ini adalah sumbangan sukarela. Anyway, saya bingung apakah saya harus stop di sini karena SKDU belum bisa dibayar, atau bagaimana. Alhasil saya coba telepon Pak Hendra lagi untuk menanyakan apakah SKU bisa dipakai sebagai Surat Usaha, bukan SKDU. Ternyata kata beliau bisa juga SKU. Jadi kesimpulannya, Surat Usaha yang dimaksud dalam form SP-PIRT Tangsel adalah SKU atau SKDU. Well, SKU sudah didapat, artinya Surat Usaha sudah berhasil didapatkan. Ini dia hasilnya:

Surat Keterangan Usaha

Next, saya akan membahas tentang Uji Laboratorium di Labkesda Tangsel. Penasaran seperti apa? Ditunggu ya!

Advertisements